Jumat, 12 Mei 2017

Mengapa Langit Berwarna Biru Kok Tidak Ungu?

Tags

Masih ingatkah kalian dengan lagu pelangi? Bukan lagu laskar pelangi ataupun lagu pelangi di matamu. Melainkan lagu pelangi-pelangi alangkah indahmu yang sering kita nyanyikan ketika masih duduk di Taman Kanak-kanak.

Lagu yang diciptakan oleh eang AT Mahmud ini mengenalkan kepada kita semua bahwa pelangi itu berwarna merah, kuning, hijau, dan langit itu berwarna biru. Namun di usia itu pernahkah kita bertanya kenapa langit berwarna biru? Kenapa tidak merah, kuning, atau hijau?

Indahnya Langit Biru

Langit berwarna biru itu merupakan takdir Sang Pencipta yaitu Allah SWT. Sama seperti kenapa warna air laut harus biru kok tidak putih. Semua itu sudah ditakdirkan Yang Maha Pencipta. Jawaban seperti ini mungkin bisa diterima namun puaskah dengan jawaban tersebut? Tentu saja tidak.

Banyak juga yang menerangkan bahwa langit berwarna biru disebabkan oleh pantulan warna air laut yang juga bernarna biru. Jika kita melihat perbandingan prosentasi daratan dan lautan adalah 71% untuk lautan dan 29% untuk daratan, maka tidak heran jika warna air laut mampu memantul cahaya matahari hingga langit berwarna biru.

Namun tahukah kalian bahwa teori tersebut hanya merupakan jawaban mitos? Apa iya itu hanya mitos? Yupz! Buktinya ketika matahari mulai menyapa kita, lebih tepatnya pagi hari. Langit tampak berwarna merah. Begitupun sebaliknya, ketika matahari dengan berat hati melambaikan tangan di senja hari. Langit juga tampak berwarna merah. Dan juga ketika mendung langit berwana menyeramkan. Kalau memang langit berwarna biru itu disebabkan oleh pantulan air laut adalah jawaban ilmiyah. Kenapa warna langit bisa berubah-ubah, kan jadi galau rasanya.

Lalu apa dan bagaimana jawaban yang sesungguhnya? Adakah jawaban ilmiyah yang bisa memecahkan persoalan kenapa langit berwarna biru? Tentu saja ada. Dan untuk memamahaminya silahkan simak keterangan di bawah ini sampai habis.

Jawaban Ilmiyah Kenapa Langit Berwarna Biru


Para ilmuan telah berbaris merapat untuk memecahkan kenapa langit berwarna biru, diantaranya Sir Rayleigh, John Tyndall, dan Leonardo Da Vinci, mereka berusaha menjawab dan mencerahkan tentang rasa penasaran kita terhadap langit yang berwarna biru.

Secara tidak sadar bahwa ketika kita memandang langit, yang kita lihat adalah atmosfer bumi yang tidak lain dan tidak bukan adalah kumpulan udara. Kalau memang yang kita lihat adalah udara lalu bagaimana bisa udara itu berwarna?

Meski secara kasat mata udara tidak terlihat apalagi sampai bisa berwarna, namun sebenarnya udara memiliki beberapa partikel diantaranya seperti nitrogen, oksigen, debu, polusi, dll. Partikel-partikel tersebutlah yang nantinya berinteraksi dengan cahaya matahari. Lalu bagaimana bisa interaksi udara dan cahaya matahari menghasilkan sebuah warna?

Jadi cahaya matahari yang terpancar ke bumi pada awalnya merupakan satu paket yakni radiasi dan gelombang elektromagnetik. Ketika cahaya matahari berhasil menerobos ke atmosfer bumi. Mata kita hanya bisa melihat apa yang disebut spektrum cahaya tampak. Dimana terdiri dari 7 warna yaitu merah, jingga, kuning, hijau, biru, nila, dan ungu (ME-JI-KU-HI-BI-NU). Ketujuh warna tersebut kemudian bergabung menjadi satu yakni cahaya putih. Oleh sebab itu cahaya matahari yang sampai bumi tampak berwarna putih.

Ketika hujan gerimis maka cahaya putih tersebut akan teruai oleh tetes-tetes air menjadi pelangi. Sehingga jadilah sebuah lagu pelangi-pelangi alangkah indahmu. Merah, kuning, hijau, di langit yang biru. Jadi supaya bisa melihat pelangi kita butuh tetes gerimis di hari yang cerah.

Namun pembauran cahaya putih yang membuat langit tampak berwarna biru bisa terjadi kapan saja, alias tidak butuh tetes gerimis. Warna biru di langit terjadi akibat dari cahaya matahari yang terurai oleh partikel gas super kecil di udara (nitrogen). Fenomena ini para ilmuan menyebutnya dengan Rayleigh Scattering.

Berbicara tentang pembauran cahaya maka kita harus memahami tentang spektrum warna dan panjang gelombang cahaya. Dimana panjang-pendek gelombang cahaya akan mempengaruhi warna yang akan tampak terlihat oleh mata kita. Untuk memahami spektrum warna dan panjang gelombang cahaya silahkan lihat gambar berikut.

Spektrum Cahaya

Saat cahaya matahari bertemu dengan partikel gas di bumi. Cahaya bergelombang pendek seperti biru, nila, dan ungu akan terlempar ke segala arah. Sedangkan cahaya bergelombang panjang seperti merah dan jingga akan lancar menembus partikel gas tersebut. Akibatnya cahaya yang terlempar akan ditangkap oleh mata kita yakni warna biru, nila, dan ungu. Eitttss..! Lalu kenapa langit harus berwarna biru kok tidak nila atau ungu?

Alasannya adalah karena di dalam retina mata terdapat berjuta sel peka cahaya. Sel tersebut bernama sel kerucut atau cone cell. Sel ini berfungsi menerima cahaya dan bertanggungjawab terhadap penglihatan cahaya. Sedangkan cone cell ini paling peka terhadap tiga warna yakni merah, hijau, dan biru. Jadi ketika mata disuruh untuk memilih antara warna biru, nila, dan ungu, maka malaikat juga tahu siapa yang menjadi juaranya, hehe. Yupz! Tentu saja warna biru.

Lalu Kenapa Langit Berwarna Kemerahan?


Ada kalanya langit tidak selamanya berwarna biru, tetapi berwarna merah. Langit berwarna merah ini terjadi ketika menjelang matahari terbit dan tenggelam. Pada kedua waktu tersebut langit tidak lagi berwarna biru, tetapi merah. Kenapa fenomena ini bisa terjadi? Mari kita temukan jawabannya!

Gelombang Cahaya Sampai di Bumi

Perhatikan ilustrasi gambar di atas! Pada siang hari matahari berada di atas kepala, ini menyebabkan cahaya matahari hanya melewati atmosfer yang lebih tipis. Sehingga gelombang cahaya pendek yang terpental akan tampak dengan jelas.

Beda halnya ketika shubuh dan menjelang malam hari, ini menyebabkan cahaya matahari harus melewati atmosfer yang lebih tebal supaya bisa sampai pada posisi kita. Akibatnya gelombang cahaya pendek yang terpental kalah balapan dan tertutup oleh gelombang cahaya panjang (merah, jingga). Sehingga warna biru tertutup oleh warna merah.

Demikian alasan ilmiyah mengapa langit berwarna biru dan tidak nila atau ungu. Semoga penjelasan di atas dapat diserap dengan mudah sehingga mampu menambah ilmu pengetahuan kita. Sekian dan terimakasih. 😉

hal yang membuat tersenyum adalah kebahagian orang lain oleh diriku

Pilih Sistem Komentar yang Anda Sukai
Disqus
Blogger

8 komentar

kita bisa melihat dengan ilmiah salah satu kebesaran Allah SWT

Ya, kalau kita menjawab dengan takdir Allah SWT, tentu saja itu jawaban tentu paling tepat dan tak terbantahkan. Hehe
Akan tetapi kita juga perlu jawaban ilmiahnya agar rasa penasaran itu mendapat jawaban.
Thank's infonya.

Bagiku apa pun itu warnanya semuanya melambangkan keindahan. Tidak ada tempat yang seindah dialam semesta ini melainkan bumi, karena langitnya berwarna-warni sesuai kondisi.

Bahkan ketika Sang Iblis mengembara, jauh sebelum manusia tercipta, iblis sudah melintasi jagad raya ini keberbagai tempat. Dan tempat yang terindah menurutnya adalah bumi..!

warna biru mengindikasikan kalau ada rasa rindu. eh cuma katanya ding. hahaha.

selamat sore.

kalo ungu ntar dikira janda mba hehehe

Ternyata walaupun angkasa langit itu ruang hampa, tapi berwarna

Kalau coklat nanti langitnya di kerubungin semut, neng... hehee..

Tapi itulah bukti kebesaran Sang Maha Pencipta, segala sesuatunya pasti sudah ada ketentuan yang diluar nalar kita, sebaiknya kita mensyukuri saja nikmat yang telah diberikan-Nya kepada kita.

Jawaban ug paling ngeselin...
Pas ditanya...

"Mengapa Langit Berwarna Biru Kok Tidak Ungu?"

Jawabnya.. Udah takdir...

Silahkan Tinggalkan Komentar Anda